Sabtu, 18 April 2015

Laporan Praktikum Pertanian Organik



BAB I
PENDAHULUAN
Kompos merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, kotoran hewan, sampah kota dan sebagainya. Proses pelapukan bahan-bahan tersebut dapat dipercepat melalui bantuan manusia. Secara garis besar membuat kompos berarti merangsang pertumbuhan bakteri (mikroorganisme) untuk menghancurkan atau menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan sehingga terurai menjadi senyawa lain. Proses yang terjadi adalah dekomposisi, yaitu menghancurkan ikatan organik molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil, mengeluarkan ikatan CO2 dan H2O serta penguraian lanjutan yaitu transformasi ke dalam mineral atau dari ikatan organik menjadi anorganik. Proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik yang sukar larut menjadi senyawa organik yang larut sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman.  Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
      Tujuan praktikum ini untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana proses pembuatan kompos dan komponen apa saja yang dibutuhkan dalam pembuatan kompos. Manfaat praktikum ini adalah dapat mengetahui pembuatan kompos yang baik dan benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.  Pupuk Organik
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahanorganik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi haratersedia bagi tanaman. Dalam Permentan No.2/Pert/Hk.060/2/2006, tentang pupuk organik dan pembenah tanah, dikemukakan bahwa pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahanorganik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya, itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik (Deptan, 2006).Pupuk organik adalah pupuk yang memiliki kandungan unsur hara rendah dan variatif. Pupuk organic memiliki keunggulan yaitu dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Sutanto, 2002).
2.1.1.  Bahan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan -bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003). Kompos merupakan hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa daun- daunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota dan lain sebagainya yang proses pelapukannya bisa dipercepat lewat bantuan manusia (Sutanto, 2002).       

2.1.2.  Sumber Mikroorganisme
Secara keseluruhan proses dekomposisi umumnya meliputi spektrum yang luas dari mikroorganisme yang memanfaatkan substrat tersebut. Kelompok organisme yang berperan aktif dalam proses pengomposan adalah mikroflora (aktinomisetes, fungi), mikrofauna (bakteri, protozoa), makrofauna (fungi), maupun Makrofauna (cacing, semut) (Indriani, 2000). Aktivitas mikroba membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit. lewat proses alamiah (Sutanto, 2002).

2.1.3.  Lingkungan
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untukmendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai,maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakankondisi yang optimum untuk proses pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri (Nuryani, 2002).Kompos adalah hasil penguraian berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Crawford, 2003).

2.2.  Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik adalah ilmu pengetahuan yang menggunakan inderamanusia untuk mengukur tekstur, penampakan, aroma dan flavor produk pangan.Penerimaan konsumen terhadap suatu produk diawali dengan penilaiannya terhadap penampakan, flavor dan tekstur (Fadhilah, 2013).Anoleptik merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam menganalisis kualitas dan mutu produk, oleh karena itu dalam tulisan blog ini saya akan menjelaskan apa saja komponen-komponen dalam organoleptik (Mujirahayu, 2013).
2.2.1.  Tekstur
Kompos dikatakan sudah matang apabila bahan telah berstruktur remah dan gembur (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak            menggumpal) (Murbandono, 2006).Ciri-ciri kompos yang baik adalah berstruktur remah serta berkonsistensi gembur (Sutejo, 1990).

2.2.2.  Warna
Kompos dikatakan sudah matang apabila bahan berwarna coklat kehitam-hitaman (Murbandono, 2006).Kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya yaitu sudah menyerupai tanah yang berwarna hitam (Simamora, 2006).

2.2.3.  Bau
Kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tidak mengeluarkan bau busuk.Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya, jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposkan sudah dingin, mendekati suhu ruang, tidak mengeluarkan bau busuk, bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah(Simamora, 2006).Indikator yang dapat diamati secara langsung adalah jika kompos tidak berbau busuk (berbau tanah) (Deptan, 2006).

2.3.  pH
Keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorgaisme. Kisaran pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral). Dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH (Indriani, 2000).Derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalamipenurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversikan asam organik yang telahterbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekatinormal (Djuarnaniet al., 2005).


BAB III
MATERI DAN METODE
Praktikum Pertanian Organik dengan acara pembuatan kompos telah dilaksanakan pada tanggal 2 Mei – 19 Juni 2014 di Rumah Kaca dan Laboratorium Ekologi dan Produksi Tanaman, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1.  Materi
 Alat yang digunakan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos adalah cangkul atau sekop untuk menggali tanah. Ember untuk tempat kotoran ternak dan tempat untuk pengomposan anaerob. Plastik untuk menutup pupuk. Tali rafia untuk mengikat plastik pada ember agar tidak mudah lepas. Bahan yang digunakan dalam praktikum pengomposan pupuk adalah kotoran ternak yang sudah kering, abu gosok dan stardek.

3.2.  Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos secara aerob adalah menyiapkan kotoran ternak yang sudah kering. Menggali lubang dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm mengisi lubang dengan kotoran ternak setinggi 10 cm. Melapisi  kotoran ternak dengan abu gosok secara merata setinggi 1 cm. menambahkan stardek secukupnya. Mengaduk hingga rata. Menutup pupuk dengan plastik. Menutup dengan tanah. Membalik pupuk tiap 2 minggu sekali. Metode yang dilakukan dalam praktikum pembuatan pupuk kompos secara anaerob adalah menyiapkan kotoran ternak yang sudah kering. Memasukkan kotoran ternak setinggi 10cm ke dalam ember. Melapisi kotoran ternak dengan abu gosok setinggi 1 cm dan stardek secukupnya. Memasukkan kotoran ternak, abu gosok dan stardek hingga ember penuh. Mengaduknya hingga rata. Menutup ember dengan plastik sehingga tidak ada udara yang masuk. Mengikat plastik pada ember dengan tali rafia agar plastik tidak mudah lepas. Membalik pupuk tiap 2 minggu sekali.

          Metode yang digunakan pada uji organoleptic pada pupuk kondisi aerobic adalah menggali tanah tempat ditanamnya pupuk. Membuka plastik pembatasnya. Menganalisa dengan mengamati tekstur, warna, dan baunya. Sementara metode yang digunakan pada pupuk kondisi anaerob adalah membuka ikatan plastic pada ember. Menganalisa dengan mengamati tekstur, warna, dan baunya.

          Metode yang digunakan dalam uji pH adalah mengambil sampel pupuk yang berada di tanah dan yang berada di ember secukupnya. Memasukkan kertas pH kedalam tumpukan pupuk selama 1 menit.  Mengamati perubahan warna yang terjadi. Mencocokkan dengan indikator pH.




BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Uji Organoleptik
4.1.1. Tekstur
  Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan tekstur sebagai berikut:
Tabel 3. Tekstur pupuk
Pupuk
Tekstur
Ember
Tanah
Minggu ke-2
Halus
Halus
Minggu ke-4
Halus
Halus
Minggu ke-6
Agak kasar
Agak kasar

        Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula bertekstur halus karena lebih dominan pada bahan kotoran sapi yang lembab semakin lama berubah menjadi agak kasar atau gembur karena mengalami proses reaksi dalam tanah yang dibantu oleh mikroorganisme. Apabila perubahan telah menjadi gembur maka pupuk sudah siap pakai atau telah matang. Hal ini sesuai dengan pendapat Murbandono (2006)  yang menyatakan bahwa kompos dikatakan sudah matang apabila bahan telah berstruktur remah dan gembur (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak menggumpal). Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Sutejo (1990) yang menyatakan bahwa ciri-ciri kompos yang baik adalah berstruktur remah, berkonsistensi gembur.

4.1.2. Warna
  Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan warna sebagai berikut:
Tabel 4. Warna pupuk
Pupuk
Warna
Ember
Tanah
Minggu ke-2
Hijau tua pekat
Kehitaman
Minggu ke-4
Hijau ke hitamaan
Hitam
Minggu ke-6
Hitam
Hitam





Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula warna hijau tua pekat disebabkan oleh kotoran sapi kemudian semakin lama semakin berubah menjadi hitam. Jika pupuk telah berwarna coklat kehitaman maka pupuk sudah dikatakan matang. Hal ini sesuai dengan pendapat Murbandono (2006) yang menyatakan bahwa kompos dikatakan sudah matang apabila bahan berwarna coklat kehitam-hitaman (bahan menjadi rapuh dan lapuk, menyusut dan tidak menggumpal). Simamora (2006) juga berpendapat bahwa kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya yaitu sudah menyerupai tanah yang berwarna hitam.







4.1.3. Bau
  Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan bau sebagai berikut:
Tabel 5. Bau pupuk
Pupuk
Bau
Ember
Tanah
Minggu ke-2
Kotoran sapi
Kotoran sapi
Minggu ke-4
Kotoran sapi
Tidak berbau
Minggu ke-6
Tidak berbau
Tidak berbau





Pupuk pada media tanah dan media ember mengalami perubahan yang bermula bau seperti kotoran sapi kemudian lambat-laun menjadi tidak berbau. Jika pupuk sudah tidak berbau maka pupuk dikatakan hasil yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Simamora (2006) yang menyatakan bahwa kompos dikatakan bagus dan siap digunakan jika tingkat kematangannya sempurna. Kompos yang baik dapat dikenali dengan memperhatikan bentuk fisiknya, jika diraba, suhu tumpukan bahan yang dikomposkan sudah dingin, mendekati suhu ruang, tidak mengeluarkan bau busuk, bentuk fisiknya sudah menyerupai tanah. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Deptan (2006) menyatakan bahwa indikator yang dapat diamati secara langsung adalah jika kompos tidak berbau busuk (berbau tanah).

4.2. pH
  Pupuk dalam media ember dan tanah dapat menghasilkan pH sebagai berikut:
Tabel 6. pH pupuk
Media
pH
Ember
7
Tanah
6

Pupuk pada media tanah setelah diambil sampel kemudian diberikan kertas lakmus dan di analisis yang menghasilkan tanah ber-pH 7 atau netral dan pada media tanah ber pH 6. Jika pH netral maka pupuk dikatakan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Indriani (2000) yang menyatakan bahwa keasaman atau pH dalam tumpukan kompos juga mempengaruhi aktivitas mikroorgaisme. Kisaran pH yang baik sekitar 6,5-7,5 (netral). Oleh karena itu, dalam proses pengomposan sering diberi tambahan kapur atau abu dapur untuk menaikkan pH. Hal tersebut di perkuat dengan pendapat Djuarnani (2005) yang menyatakan bahwa derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalamipenurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organik menjadi asam organik. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme dari jenis lain akan mengkonversikan asam organik yang telahterbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekatinormal.









BAB V
SIMPULAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum pertanian organik dengan memberi pupuk organik dapat disimpulkan bahwa padda media ember mengalami perubahan secara bertahap dimulai dari segi tekstur yang terus berubah, berawal dari halus akibat dari kotoransapi menjadi agak kasar karena perubahan dari tanah yang disebabkan sebuah proses pelapukan yang dibantu oleh organisme. Pada warna dan bau pun mengalami hal yang demikian perubahannya. Ketika proses pempukan usai dalam kurun waktu dua bulan maka pupuk dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan kertas lakmus. Hasil yang diperoleh yaittu pada medis ember ber pH 7 dan padda media tanah ber pH 6. Ini membuktikan hasil pupuk yang diperole merupakan pupuk yang baik. Pupuk dikatakan baik atau sempurna jika telah bertekstur agak kasar atau gembur, berwarna coklat kehitaman, tidak berbau dan ber-pH netral. Dengan demikian pupuk sudah siap pakai.

5.2. Saran
Lebih disiplinkan saat praktikum dan jalin komunikasi yang baik antar mahasiswa dan asiseten dosen sehingga tidak terjadi ketimpangan waktu dan prolema sistem.



DAFTAR PUSTAKA
Deptan, 2006. Teknik Pembuatan Kompos. http://deptan.go.id. Akses 02 Juni 2014.
Djuarnani, N., Kritian., BS Setiawan., 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Fadhilah, Eva. 2013. Uji Organoleptik - Uji Hedonik Kopi. UGM Press, Yogyakarta.
Indriani, Y.H., 2000. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Mujuirahayu. 2013. Uji Organoleptik. (online). http://mujirahayu69.blogspot. com/2013/03/organolepti.html. 3 Juli 2014.
Murbandiono, 2008. Membuat Kompos Edisi Telivisi. Penebar Swadaya, Jakarta.
Nuryani dan Rachman.2002.Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan volume 3.UGM press, Yogyakarta.

Sutanto, R. 2002. Pertanian Organik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Simamora, S. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Meningkatkan Kualitas Kompos. Kiat Menggatasi Permasalahan Praktis. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Toharisman, A. 1991. Potensi Dan Pemanfaatan Limbah Industri Gula Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar